Sanggar Tari Tirto Arum Sari Pukau Festival Jathilan Pakualaman

argomulyo 22 Juni 2026 14:33:45 WIB

(Argomulyo, Sedayu)— Alun-Alun Sewandanan Pura Pakualaman tampak semarak pada akhir pekan lalu. Dalam rangka memperingati Hadeging (Berdirinya) Kadipaten Pakualaman ke-214, sebuah perhelatan budaya bertajuk Festival Jathilan “Klasik Asik” sukses digelar. Acara ini berlangsung selama dua hari, yakni pada Sabtu Pon dan Ahad Wage (20–21 Juni 2026), mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai.

Di antara deretan kontingen yang tampil memukau, hadir Sanggar Tari Tirto Arum Sari dari Pedes, Argomulyo, Sedayu. Keikutsertaan mereka dalam festival bergengsi ini menjadi bukti nyata komitmen lokal dalam melestarikan seni tradisi Yogyakarta.

 

Garapan Kreatif dalam Balutan Merah Muda dan Hitam

Pada kesempatan kali ini, Sanggar Tari Tirto Arum Sari menyuguhkan penampilan yang memikat mata penonton lewat jathilan pondil kreasi atau garapan. Begitu memasuki pelataran alun-alun, para penari langsung mencuri perhatian berkat kostum mereka yang didominasi oleh perpaduan warna merah muda dan hitam—memberikan kesan berani namun tetap anggun dan dinamis di lapangan.

 

Tantangan Waktu: Hanya 3 Kali Latihan

Di balik keindahan gerak yang disajikan di atas panggung, ternyata ada cerita perjuangan yang cukup berat dari para kru dan penari. Proses persiapan menuju Festival "Klasik Asik" ini terbilang sangat mepet.

"Informasinya mendadak, dengan persiapan hanya satu pekan. Kendala waktu membuat persiapan kami jelas kurang," ungkap Totok Riyanto, Kamituwa Argomulyo, saat memberikan keterangan.

Tantangan tidak berhenti di situ. Dinamika tim juga diuji karena beberapa penari baru dipastikan bergabung menjelang hari H. Alhasil, seluruh tim hanya sempat menjalani latihan intensif sebanyak 3 kali saja sebelum akhirnya harus langsung unjuk gigi di hadapan publik dan para juri di Alun-Alun Sewandanan.

 

Menatap ke Depan: Evaluasi untuk Lebih Baik

Meski diperhadapkan dengan keterbatasan waktu dan persiapan yang serba instan, Sanggar Tari Tirto Arum Sari tetap berhasil menuntaskan penampilan mereka dengan penuh semangat dan totalitas.

Bagi pihak kelurahan dan pengelola sanggar, momentum ini bukan sekadar soal tampil di atas panggung, melainkan sebuah proses pendewasaan kelompok. Totok Riyanto menegaskan bahwa tantangan ini akan menjadi modal berharga bagi perkembangan sanggar ke depan.

"Totok berharap hal ini menjadi bahan pembelajaran dan evaluasi agar ke depan menjadi lebih baik lagi," pungkasnya optimis.

Festival Jathilan "Klasik Asik" Kadipaten Pakualaman ke-214 ini pun menjadi saksi bahwa keterbatasan waktu bukanlah penghalang untuk tetap menyalakan api kreativitas dan melestarikan budaya adiluhung Nusantara.

 

Kontributor ; Ulu-ulu Argomulyo

Komentar atas Sanggar Tari Tirto Arum Sari Pukau Festival Jathilan Pakualaman

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
Isikan kode Captcha di atas
 
Kebijakan Privasi

Website desa ini berbasis Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Combine Resource Institution sejak 2009 dengan merujuk pada Lisensi SID Berdaya. Isi website ini berada di bawah ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International (CC BY-NC-ND 4.0) License